花①
Hana Ichi
Bunga①
2022.08.22
『肋骨と蝶』という好きな詩がある
Rokkotsu to Chou to iu suki na shi ga aru
Ada sebuah puisi favoritku yang berjudul “Tulang Rusuk dan Kupu-kupu.”
この詩自体は、蝶を喘息に喩えた作品なのだけども、人間が自然の一部として存在している調和の手触りと、題名のたった四文字から感じられる不思議な気配が愛おしくて、刺激的だった。
Kono shi jitai wa, chou o zensoku ni tatoeta sakuhin na no dakedomo, ningen ga shizen no ichibu toshite sonzai shiteiru chouwa no tedzuri to, daimei no tatta yon moji kara kanjirareru fushigi na kehai ga itooshikute, shigekiteki datta.
Puisi ini, meskipun menggambarkan kupu-kupu sebagai metafora untuk asma, memancarkan rasa keajaiban dari harmoni manusia sebagai bagian dari alam dan suasana misterius dari hanya empat huruf dalam judulnya. Itu indah dan menggetarkan.
先日発売した新アルバムの11曲目に収録されている『ねじこ』の2番サビ
「下から上に育ってゆけ
花のように天へ伸ばす背骨」
Senjitsu hatsubai shita shin arubamu no juuichi kyoku-me ni shouroku sareteiru “Nejiko” no ni-ban sabi
”Shita kara ue ni sodatte yuke
Hana no you ni ten e nobasu sebone”
Di album baruku yang baru saja dirilis, lagu ke-11 “Nejiko” memiliki lirik pada bagian reff kedua:
“Tumbuhlah ke atas dari bawah
Seperti bunga yang tulang punggungnya menjulur ke langit.”
はこの詩に影響を受けているなぁとアルバム酸欠少女の歌詞カードを見返しながら思い出した。
Wa kono shi ni eikyou o uketeiru naa to arubamu Sanketsu Shoujo no kashi kaado o mikaeshi nagara omoidashita.
Aku sadar lirik itu dipengaruhi oleh puisi ini ketika melihat kembali kartu lirik album Sanketsu Shoujo.
スクランブル交差点を脳裏に浮かべながら書いた。
Scramble kousaten o nouri ni ukabe nagara kaita.
Aku menulisnya sambil membayangkan persimpangan scramble di benakku.
都会は人も多い、何かと狭苦しく感じる瞬間も多いけど、往来するひとりひとりに一様に、ありあまる空が広がっていれば良いと思った。どんな場所にいたとしてもです。
Tokai wa hito mo ooi, nanika to semakurushiku kanjiru shunkan mo ooi kedo, ourai suru hitori-hitori ni ichiyou ni, ariamaru sora ga hirogatte ireba yoi to omotta. Donna basho ni ita toshite mo desu.
Kota besar memang penuh sesak, seringkali terasa sempit. Namun, kupikir akan menyenangkan jika setiap orang yang lalu-lalang memiliki langit yang luas membentang di atas mereka, di mana pun mereka berada.
花と人間、不自由と自分、
同一視するも対比するも好き好きだけど、
切り取ることで自由な景色が見えてくることもあるのは、不可思議なからくりですわね。
Hana to ningen, fujiyuu to jibun,
Douishi suru mo taihi suru mo sukisuki dakedo,
Kiritoru koto de jiyuu na keshiki ga miete kuru koto mo aru no wa, fukashigi na karakuri desu wa ne.
Bunga dan manusia, kebebasan dan ketidakbebasan—terserah ingin menyamakan atau mempertentangkannya. Kadang, dengan memotong sebagian, kita justru bisa melihat pemandangan yang lebih bebas. Itu mekanisme yang misterius, bukan?
切り取ると元の世界よりも狭いはずなのにな。
Kiritoru to moto no sekai yori mo semai hazu na no ni na.
Padahal, jika dipotong, seharusnya dunia yang terlihat lebih sempit dari aslinya.
しかし最近の私の歌詞は直喩が多めだな、
暗喩を用いた歌詞、暗喩を成立させる世界像の曲をもう少し書きたいです。
Shikashi saikin no watashi no kashi wa chokuyu ga oome da na,
An’yu o mochiita kashi, an’yu o seiritsu saseru sekaizou no kyoku o mou sukoshi kakitai desu.
Namun, belakangan lirikku cenderung penuh dengan metafora langsung. Aku ingin lebih banyak menulis lagu dengan lirik yang menggunakan kiasan tak langsung, membangun dunia untuk mendukung metafora itu.